Nyaman. Setiap orang membutuhkan perasaan tersebut, apalagi dalam lingkungan belajar. Terciptanya perasaan nyaman membuat anak-anak mau dan senang belajar. Bayangkan apabila mereka telah mempunyai perasaan tersebut. Memasuki kelas dengan perasaan nyaman. Duduk di kursi dengan perasaan senang. Memulai pembelajaran dengan membaca doa dan memberi salam juga dengan perasaan senang. Mungkin, belajar tidak lagi menjadi beban bagi mereka.
Bagaimana perasaan nyaman itu muncul? Menurut saya, hal ini bisa terjadi baik secara internal maupun eksternal. Maksudnya, perasaan tersebut bisa terjadi karena anak itu sendiri atau ada pemicunya. Lalu, mengapa kita harus memunculkan perasaan nyaman? Agar siswa belajar di ruang kelas atau lingkungan belajar yang kondusif.
Lingkungan yang kondusif sangat penting bagi keberhasilan pembelajaran. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, lingkungan belajar dan saat interaksi pembelajaran. Lingkungan belajar mengacu pada lingkungan guru dengan peserta didik menjalani pembelajaran. Sedangkan interaksi pembelajaran mengacu pada hubungan yang ada antara guru (fasilitator) dan peserta didik.
Apalagi sejumlah besar waktu anak dihabiskan untuk duduk di kelas. Tempat ini dimana mereka akan mempelajari berbagai keterampilan yang dianggap perlu dan tepat untuk mereka kelak di masyarakat nanti. Ruang kelas adalah tempat mereka akan mendapatkan pemahaman tentang dunia. Di sinilah peserta mengembangkan apa yang mereka ingin lakukan di masa depan. Sehingga ruang kelas menjadi tempat yang sangat penting dalam pertumbuhan anak, penting agar mereka bisa menerima secara maksimal.
Menurut saya, lingkungan yang kondusif untuk belajar harus memiliki elemen berikut:
- Harus ada manajemen kelas yang memadai. Misalya, menampilkan kerja peserta didik. Saat menampilkan esai, puisi, atau proyek. Guru bisa menempelnya di dinding. Ada kepemilikan peserta didik atas ruangan tersebut. Ketika mereka melihat tulisan dari pemikiran mereka sendiri, mereka pasti mengalami tingkat kenyamanan yang lebih tinggi daripada jika mereka melihat poster yang dibeli di toko. Apabila poster informasi dibutuhkan, mintalah peserta didik yang membuatnya.
- Mengakui bila guru tidak tahu. Peserta didik menghargai saat guru menunjukkan tersebut. Mengatakan, “saya tidak begitu yakin, apakah ada yang tahu?”
- Lingkungan harus bersifat partisipatif. Ini ada hubungannya dengan keterlibatan aktif peserta didik di dalam kelas.
- Tersenyum. Mungkin terdengar aneh atau apakah seperti lelucon? Tetapi, menurut saya tersenyum itu bisa memberikan energi positif untuk peserta didik dan bisa menular. Tertawalah dengan siswa Anda. Belajar tidak harus terlalu serius dengan dahi yang mengernyit.
- Mengelompokkan siswa dengan minat saat membuat proyek, karena mereka sudah memiliki hubungan dengan temannya. Sehingga lebih mudah melakukan kerja kelompok. Bahkan mereka memiliki pola pikir yag sama bagaimana cara menyelesaikannya agar lebih efisien. Hal ini juga memungkinkan materi yang sama disajikan berbagai cara berdasarkan kepentingan mereka. Satu kelompok mungkin menyukai grafik, sementara yang lain membuatnya dengan sketsa atau gambar. Masing-masing bisa mempelajari materi dengan ara yang terbaik untuk membantu mereka dalam bekerja dan mengingat.
- Beri opsi penawaran. Jika guru memulai sebuah tugas dengan, “Anda akan memiliki tiga pilihan,” anak-anak mungkin akan merasa senang dan lebih bersedia untuk mengerjakannya, daripada berkata, “tugasnya adalah….” Dengan memberikan pilihan kepada peserta didik, hal ini seperti mengirimkan pesan bahwa guru menghormati keputusan peserta didik.
- Terbebas dari stres. Pendidik harus berusaha keras untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antar peserta didik. Hal ini dikarenakan lingkungan yang kompetitif akan menciptakan ketegangan. Bagi siswa yang merasa “kurang” akan merasa terpinggirkan, sebaliknya yang merasa “vokal” akan mendominasi kelas.
- Pendidik harus memasukkan berbagai strategi pengajaran. Strategi yang berbeda harus diadopsi oleh pendidik untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran yang efektif.
- Mengacak tempat duduk. Ini memasikan bahwa siswa tidak mengambil pengaturan tempat duduk mereka sendiri. Atau mereka tidak akan menganggap guru tersebut khusus memindahkan mereka akrena mereka tidak bekerja dengan cukup baik. Ini juga membantu memastikan bahwa peserta didik tidak kehilangan motivasi. Selain itu, membuat siswa atau kelompok tidak merasa “terasingkan”. Guru bisa menempatkan siswa yang rajin di samping siswa yang kurang rajin. Seorang guru harus memperhatikan hal ini saat mempraktikannya. Guru bisa membuat urutan acak dan kemudian melakukan penyesuaian jika perlu.
- Lingkungan belajar harus bersahabat, bersifat informal dan menyenangkan. Ini berarti, pendidik harus cukup fleksibel untuk melakukan sesuatu yang humoris, mengakomodasi perbedaan individu di kelas.
Secara keseluruhan, lingkungan kelas memainkan peranan penting dalam menjaga keterlibatan siswa dan memungkinkan mereka untuk menjadi sukses di dalam kelas. Guru bisa memodifikasi lingkungan untuk mencapai hasil tersebut. Ada banyak cara untuk melakukannya.
Selain yang dipaparkan di atas, mereka bisa mengatur meja dengan pola yang berbeda. Mereka bisa menghias dinding dengan berbagai tugas atau barang. Bahkan guru bisa mengadaptasi pencahayaan atau suhu ruangan. Seorang guru yang baik menyadari unsur-unsur ini dan pentingnya bahwa mereka ikut bermain dalam kesuksesan siswanya. Tanpa memperhatikan lingkungan kelas, guru bisa menghambat kesuksesan tersebut. Oleh karena itu, lingkungan belajar yang kondusif merupakan pondasi pembelajaran yang efektif.